Diberdayakan oleh Blogger.

KIM SE-JATIM

Kelompok Informasi Masyarakat Jawa Timur 

Forum KPM Jawa Timur - Dalam upaya memampukan masyarakat dalam keikutsertaan dalam pembangunan perlu didorong satu upaya berbasis kemanusiaan, baca selengkapnya 
 
 
 
 
BAKSOS IDUL ADHA 1435H,WATU AGUNG DAYAKAN BADEGAN PONOROGO - Sudah menjadi agenda tahunan yang sudah berjalan selama 15 tahun,setiap Idul Adha GP ANSOR Ranting Ngunut bekerja sama dengan YAYASAN IKATRINA,SMP MA'ARIF ...

PDRB SEKTOR PERKEBUNAN JATIM CAPAI RP 20 TRILIUN - Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Perkebunan Jawa Timur selama tiga tahun terakhir terus meningkat dengan capaian Rp 2 triliun per tahun. Jika tiga tah...baca selengkapnya 
 
 
- Di tahun 2014 ini KIM ARCA mempunyai program khusus yang akan dilaksanakan mulai bulan Februari, yakni program penyusunan buku Yellowpage Desa Candir...baca selengkapnya


M "DAMAR KENCONO"
Wow, Potensi Lahan Pertanian di Pekarangan Rumah 10 Juta Hektar - Kementerian Pertanian menyatakan ada potensi lahan pertanian seluas 10 juta hektar dari kawasan rumah pangan lestari (KRPL). Caranya pun sangat mudah yakn... baca selengkapnya



MU TERNAK HERBAL "TUNAS HARAPAN"
GENTASIBU - GENTASIBU Kabupaten nganjuk, kembali memiliki program andalan yang patut menjadi acuan bagi daerah lain untuk jenis bidang yang sama. Yakni Gerakan Penge...
 

KELOMPOK INFORMASI MASYARAKAT (KIM)

  1. Kelompok Informasi Masyarakat (KIM)
 Era keterbukaan informasi yang didorong oleh perkembangan teknologi informasi dan Komunikasi (TIK), menjadikan dunia seakan tanpa mengenal batas wilayah. Manusia dengan mudah dan cepat dapat mengakses informasi yang dibutuhkan. Kondisi ini, apabila tidak diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia dalam memilah dan memilih informasi yang tersedia secara transparan berdampak pada kontra produktif dalam kerangka pembangunan di segala bidang.


Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) memiliki peran strategis dalam upaya menjawab tantangan tersebut, karena KIM sebagai komunitas masyarakat informasi yang tumbuh dan berkembang di tengah – tengah kehidupan masyarakat khususnya di Indonesia merupakan masyarakat sadar informasi yang diharapkan dapat berperan menjadi fasilitator untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dan informasi yang terjadi antara pemerintah dengan masyarakat (top down) atau sebaliknya antara masyarakat dan pemerintah (bottom up).


KIM sebagai agen informasi, berperan aktif mendistribusikan informasi yang perlu diketahui oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat melakukan langkah antisipatif yang bermanfataan untuk menopang aktivitas mereka.
 
 2. Pekan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM)
 Sebagai bentuk apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, bekerjasama dengan Pemerintah Kab/Kota di Jawa Timur secara periodik sejak tahun 2006 (Pekan KIM I) hingga 2011 (Pekan KIM VI) menyelenggarakan Pekan KIM yang diikuti oleh KIM Kab/Kota.


Kegiatan pada Pekan KIM diisi dengan : Grand Final Lomba Cerdik Cermat Komunikatif (LCCK), Festival Pertunjukan Rakyat, Pameran produk unggulan KIM, Workshop TI, dan Sarasehan KIM.
  
  1. Lomba Cerdik Cermat Komunikatif (LCCK)
 Guna meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota dan pengurus Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) khususnya di bidang Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dan mendayagunakan KIM sebagai motor penggerak kehidupan masyarakat, maka salah satu rangkaian kegiatan Pekan KIM didahului dengan Lomba Cerdik Cermat Komunikatif (LCCK) di tingkat Bakorwil se Jawa Timur. Pemenang tingkat Bakorwil berhak maju ke Grand Final LCCK Jawa Timur.
  

KIM (Kelompok Informasi Masyarakat)

Warga kota Malang khususnya di Kelurahan masih dihadapkan pada permasalahan dasar untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Untuk dasar itu masyarakat kota Malang perlu ditingkatkan kemampuannya sehingga berdaya dan dapat hidup layak serta mampu mengatasi permasalahan di masa yang akan datang, Antara lain faktor persaingan yang semakin terbuka baik di dalam maupun di luar negeri.
Upaya pemberdayaan antara lain dilakukan dengan mendorong kelompok-kelompok masyarakat untuk mendayagunakan informasi agar memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat. Dalam konsep ini, bagaimana pemberdayaan terjadi melalui proses peningkatan kesadaran akan pentingnya informasi, peningkatan akses dan pedayagunaan informasi tersebut melalui kelompok.
Kelompok masyarakat dimaksud diberi nama generik Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Respon terhadap kehadiran KIM cukup besar, terutama dari aparat Kelurahan yang membutuhkan wahana penyaluran dan pendayagunaan informasi oleh masyarakat.
Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) adalah suatu lembaga layanan publik yang dibentuk dan dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat yang secara khusus berorentasi pada layanan informasi dan pemberdayaan masyarakat sesuai dengan kebutuhannya.

Pengertian KIM

Berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI  No. 08/PER/M.KOMINFO/6/2010 tentang Pedoman Pengembangan dan Pemberdayaan Lembaga Komunikasi Sosial, tanggal 1 Juni 2010
KIM  (Kelompok Informasi Masyarakat) atau kelompok sejenis lainnya adalah kelompok yang dibentuk oleh, dari, untuk masyarakat secara mandiri dan kreatif yang aktivitasnya melakukan pengelolaan informasi dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan nilai tambah.

Dasar Hukum

1.   PP No. 38 Tahun 2007
Tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, pemerintahan daerah provinsi, dan pemerintahan Daerah kabupaten/kota
2.  Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI No. 17 Tahun 2009
Tentang Diseminasi informasi nasional oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah daerah Kabupaten/Kota, tanggal 17 Maret 2009
3.  Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI No. 08/PER/M.KOMINFO/6/2010
Tentang Pedoman Pengembangan dan Pemberdayaan Lembaga Komunikasi Sosial, tanggal 1 Juni 2010.

Visi KIM

Terwujudnya KIM yang inovatif dalam meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat melalui pendayagunaan informasi dan komunikasi dalam rangka mencapai masyarakat informasi yang sejahtera.

Misi KIM

  1. Mendorong tumbuh dan berkembangnya KIM secara mandiri sebagai wahana informasi dalam masyarakat;
  2. Meningkatkan peranan KIM dalam memperlancar arus informasi antar pemerintah dengan masyarkat dan antar golongan masyarakat;
  3. Meningkatkan kemampuan anggota KIM dan masyarakat dalam mengakses dan mengelola informasi dalam rangka meningkatkan literasi informasi dan mengatasi kesenjangan informasi;
  4. Mengembangkan aktivitas KIM dalam mendayagunakan informasi guna meningkatkan nilai tambah masyarakat;
  5. Meningkatkan aktivitas KIM dalam menyerap dan menyalurkan aspirasi masyarakat.

Fungsi KIM

1. Sebagai Wahana Informasi
a) Antar Anggota KIM secara Horisontal
Para anggota KIM dapat saling bertukar informasi tentang segala sesuatu yang sudah diketahuinya sehingga akan berarti juga saling berbagi pengetahuan
b) Dari KIM ke Pemerintah Kota Malang secara Bottom-up
Para anggota masyarakat yang jadi anggota KIM dapat memberikan saran-saran kepada Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kota tentang apa yang harus dibangun pembangunannya sehingga sangat sesuai dengan kebutuhan setempat. Anggota KIM menjadi perencana dan pelaksana bagi pembangunan lokal. Asas pemberdayaan ini sangat sesuai dengan pendekatan pembangunan komunitas
c) Dari Pemerintah Kota Malang kepada masyarakat secara Top-down
Anggota KIM menjadi agen pembangunan yang menyebarluaskan gagasan pembangunan nasional ke tingkat lokal.
2. Sebagai Mitra Dialog dengan Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Kota Malang dalam merumuskan Kebijakan Publik
Dengan KIM yang mengetahui kebutuhan publik dan karakteristiknya, Pemerintah baik Pusat maupun Pemerintah Kota Malang dalam merumuskan kebijakan public dapat menjadikan KIM sebagai mitra dialog.
Selain itu KIM dapat berfungsi sebagai mitra dialog dalam mendukung pelaksanaan semua kebijakan public dan memonitoring pelaksanaannya
3. Sebagai Peningkatan Literasi Masyarakat di Bidang Informasi dan Media Masa serta Teknologi Informasi dan Komunikasi di kalangan anggota KIM dan Masyarakat.
  • Fungi untuk meningkatkan literasi di Bidang Informasi, yaitu bagaimana agar memandang bahwa upaya memperoleh informasi sebagai kebutuhan hidup dan sudah terbiasa mencari informasi dari berbagai sumber;
  • Fungsi sebagai literasi Media Massa, merupakan kemampuan menggunakan media massa secara cerdas dan sehat dan mampu mendayagunakannya dalam kehidupan masyarakat;
  • Fungsi literasi di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, ialah kemampuan masyarakat dalam mengakses dan mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi, seperti computer dan internet untuk kepentingan mengakses informasi atau untuk mendayagunakan sebagai jasi dan produk teknologi informasi dan komunikasi.
4. Sebagai Lembaga yang Memiliki Nilai Ekonomi
  • Melalui informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, KIM dapat menerapkannya dalam berbagai aktivitas perdagangan, pertanian, industry dan menghasilkan tambahan pendapatan dari aktivitas tersebut;
  • Melalui informasi yang diperoleh dari berbagai media dan sumber lainnya, masyarakat dapat memperoleh informasi peluang-peluang usaha, permintaan pasar mengenai berbagai produk dan jasa, kemudian KIM dapat melakukan transaksi bisnis, yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai tambah ekonomi;
  • Informasi-informasi yang diperoleh dari berbagai sumber dikemas sedemikian rupa dalam bentuk bahan informasi (buku, bulletin, bahan audio visual) yang dapat dijual kepada pihal lain yang membutuhkan. Jadi informasi itu sendiri setelah dikemas, akan bias mendatangkan Nilai Ekonomi.

Bupati Apresiasi Usaha Tempe Tradisional


Reporter : Mujiono
GENDING
- Kegemerannya mengkonsumsi tempe menginspirasi Zayadi Zuhri warga Dusun Kertah Desa Sebaung Kecamatan Gending untuk membuat tempe sejak 1988 silam. Meski dibuat dengan cara tradisional, tempe buatannya laku keras di pasaran.

Hidup adalah perjuangan. Kerja keras diperlukan demi menjalani kehidupan. Hal itu  diyakini betul oleh Zayadi, yang sehari-hari mengajar mengaji di Musholla Mamba’ul Ulum sekaligus menekuni pembuatan tempe.

“Pembuatan tempe ini masih kami lakukan secara manual karena keterbatasan modal. Meskipun begitu, bahannya kami pilih yang benar-benar berkualitas. Sehingga pelanggan dan konsumen tidak kecewa,” ungkapnya.

Menurut Zayadi, hasil pembuatan tempe dari bahan kedelai ini dijual di pasar-pasar dan dijajakan keliling di desa-desa di Kecamatan Gending. Sedangkan bahan baku untuk pembuatan tempe adalah kedelai berkualitas, yang tidak selalu tersedia di pasar atau toko.

“Setiap harinya, kami bisa menjual tempe hingga 30 kilogram (kg) lebih. Tetapi jika pada musim nelayan mendapat hasil ikan yang banyak, penjualan tempe menurun hingga 20 kilogram per hari,” ungkapnya.

Dalam pembuatan tempe, Zayadi dibantu istrinya dengan menggunakan tempat yang sederhana. Mulai perebusan hingga penggilingan kedelai dilakukan secara manual.

“Penjualan produk tempe ini masih tergolong sangat sederhana. Penjualannya masih memakai kendaraan sepeda motor dengan membawa tas diikatkan pada sepeda,” terangnya.

Kamis (4/9) lalu, sentra pembuatan tempe Zayadi ini dikunjungi Bupati Probolinggo Hj P. Tantriana Sari SE. Kunjungan ke sentra pembuatan tempe yang mempunyai ciri khas rasa gurih dan diminati masyarakat tersebut dilakukan di sela-sela bhakti gotong royong di Desa Sebaung Kecamatan Gending.

Dalam kesempatan itu, Bupati Tantri menyaksikan dari dekat proses pembuatan tempe. Tidak hanya itu, orang “nomor satu” di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo ini juga memberikan bantuan alat untuk proses pembuatan tempe.

Bahkan Bupati Tantri mencoba membuat tempe yang diawali dengan merebus kedelai dengan ukuran air separo dari banyaknya kedelai di panci khusus hingga setengah masak. Selanjutnya kedelai didiamkan beberapa menit sampai dingin, kemudian digiling sampai posisi kedelai terbelah.

Selanjutnya kedelai dicuci sampai bersih dan direndam selama satu malam. Setelah itu dimasak lagi sampai mendidih dan dituangkan ke dalam bakul plastik untuk dikeringkan. Kemudian kedelai ditaburi ragi dan dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan dilubangi (ditusuk) di atas dan di bawahnya. Selanjutnya akan terjadi proses fermentasi (penjamuran) hingga dihasilkan tempe.

“Usaha ini merupakan salah satu upaya untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Semoga dengan usaha ini, pendapatan masyarakat meningkat dan kesejahteraan hidupnya lebih baik,” ungkapnya. (y0n)

Omzet Budidaya Ikan Nila Sholehudin Capai Jutaan Rupiah


Reporter : Syamsul Akbar
GENDING
- Berawal dari lima petak kolam, Sholehudin (52) sukses membudidayakan ikan nila. Budidaya Nila yang dikembangkan warga Desa Gending Kecamatan Gending itu pun kini beromzet puluhan juta.

Sejak tahun 2010 silam, Sholehudin memulai usahanya dengan membudidayakan ikan nila. Ia memanfaatkan tambak yang sebelumnya digunakan budidaya ikan bandeng. Apalagi setelah budidaya bandeng kurang maksimal terutama di musim kemarau, ia semakin tekun memelihara nila.

“Dulunya saya menekuni budidaya bandeng, tetapi perkembangannya lama. Kemudian saya coba-coba ke budidaya ikan nila, ternyata perkembangannya sangat cepat. Akhirnya saya memutuskan tetap menggeluti budidaya ikan nila sampai sekarang,” ungkap pria asli Desa Pajurangan Kecamatan Gending ini.

Tergabung dalam Kelompok Keting, pria kelahiran Probolinggo, 4 Juni 1962 ini memulai usahanya dengan menebar 5 ribu benih ikan nilai di sebidang petak kolamnya. Awal menjalani usaha tersebut, ia mengeluarkan modal sebesar Rp 550 ribu untuk beli benih dan pakan ikan.

Ketika panen ia memperoleh ikan nila sebanyak 6 kuintal dengan harga saat itu Rp 12.000/kg. Dengan harga tersebut, ia memperoleh hasil penjualan sebanyak Rp 7.200.000. Setelah dikurangi modal awal sebesar Rp 550 ribu, keuntungan yang didapat mencapai Rp 6.650.000.

“Melihat hasilnya yang cukup menjanjikan itu, saya mencoba menebar benih sebanyak 15 ribu ekor ke sebidang petak kolam. Dengan asumsi menebar 5 ribu saja dapat banyak, mungkin dengan menebar 15 ribu, hasilnya akan lebih banyak lagi. Ternyata hasilnya tetap hanya sekitar 6 kuintal,” jelasnya.

Anak pertama dari lima bersaudara pasangan Sugiono dan Marsena ini menjelaskan, dari lima petak kolam yang dimilikinya, hanya tiga petak kolam saja yang dimanfaatkan untuk ditebari benih. “Dua petak kolam yang lain digunakan untuk tempat tanjar (penampungan sementara, Red,) ikan sebelum ditebar ke kolam,” terangnya.

Ayah tiga anak ini mengungkapkan, saat ini ia menebar benih sebanyak 15 ribu ekor di tiga petak kolamnya dengan harga sekitar Rp 1,5 juta. Dalam sekali siklus budidaya, ia menghabiskan pakan sebanyak 3 sak. Di mana per sak harganya mencapai Rp 170 ribu sehingga total harga pakannya mencapai Rp 510 ribu.

“Saya dapatkan benih umur 1,5 bulan dari dinas (Dinas Perikanan dan Kelautan,Red). Sebelum ditebar, benih itu ditanjar dulu selama sebulan. Setelah itu baru ditebar ke dalam kolam. Pemberian pakannya dilakukan dua kali sehari. Setelah lima bulan sudah bisa panen,” tegasnya.

Suami dari Samiati ini menjelaskan, ikan hasil panenya dibeli pedagang dari Mayangan Kota Probolinggo. Harganya bervariasi mulai Rp 12 ribu hingga Rp 16 ribu/kg, tergantung pada waktu panen dan ukuran ikannya. Biasanya di pasaran dijual seharga Rp 17 ribu per kilogram.

“Meskipun perkembangan budidaya ikan nila ini sangat cepat, tetapi tantangannya pada cuaca. Kalau musim kemarau, perkembangan ikan nila agak lambat. Tetapi kalau musim hujan, perkembangannya cukup bagus. Kalau musim kemarau, 6 bulan dari tebar baru bisa panen. Tetapi kalau musim hujan, umur 4 bulan saja dari tebar sudah bisa panen,” tambahnya.

Pria yang tidak tamat SMP ini mengaku, banyak memperoleh manfaat setelah dibina Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo. Sebab sebelumnya, ilmu budidaya ikan nila itu ia dapatkan secara otodidak.

Tetapi setelah ada pembinaan, ia mengetahui cara mengatur sirkulasi air, membedakan ikan besar dan kecil, membedakan ikan jantan dan betina. Bahkan ia pernah mengikuti beberapa pelatihan khusus budidaya perikanan.

“Setelah panen dan sebelum tebar benih lagi, saya mendapatkan ilmu untuk menaburi kolam dengan kapur supaya plankton bisa tumbuh. Sebelumnya saya tidak punya ilmu apa-apa,” akunya.

Sholehudin yang nyambi sebagai nelayan ini menambahkan, dirinya pernah kehabisan stok ikan. Di mana permintaan banyak dan harganya juga mahal. Tetapi ikan yang ada di kolamnya masih kecil.

Akhirnya ia hanya bisa pasrah. Sebab saat panen, harganya terkadang turun. Tetapi ia bersyukur, dari usaha budidaya ikan nila ini, bisa mencukupi seluruh kebutuhan keluarga.

“Dari usaha budidaya ikan nila ini saya bisa menabung untuk kebutuhan keluarga. Kalau dulu saya tidak bisa menabung, hanya cukup untuk dimakan bersama keluarga. Alhamdulillah, usaha budidaya ikan nila ini bisa menambah pendapatan keluarga,” pungkasnya.

Sementara Kepala Diskanla Dedy Isfandi melalui Kepala Bidang Budidaya Perikanan Hari Pur Sulistiono mengungkapkan, budidaya ikan nila ini merupakan salah satu upaya pemanfaatan lahan tambak yang kurang produktif, terutama pada tambak yang banyak air tawar. Sehingga Diskanla berupaya bagaimana memanfaatkan lahan tambak bisa produktif, salah satunya memanfaatkan budidaya ikan nila.

“Budidaya ikan nila bukanlah barang baru. Di pasar masyarakat mengenal ikan nila dengan ikan mujair. Potensi tambak di Kabupaten Probolinggo mencapai 2 ribu hektar. Tetapi tidak semuanya produktif. Budidaya ikan nila ini bisa berkembang dengan cepat dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” ungkapnya. (wan)